Deviant Login Shop  Join deviantART for FREE Take the Tour
×

:iconoichidan: More from oichidan


More from deviantART



Details

Submitted on
April 26
Submitted with
Sta.sh Writer
Link
Thumb

Stats

Views
84
Favourites
1 (who?)
Comments
5
×
Kamu tahu, bagaimana lingkungan bisa bertahan hidup dalam keadaan seperti ini?

Diceritakan, lingkungan itu memiliki caranya tersendiri untuk kembali dalam keadaan seimbang. Contohnya, saat terjadi erosi, alam berusaha untuk mengembalikan kembali tanah-tanah yang fungsinya hilang karena erosi dengan memanfaatkan zat-zat yang ada di sekitarnya. Saat terjadi kebakaran hutan, contoh lainnya, alam akan berusaha memadamkannya dengan cara yang natural atau alamiah.
Namun, tindakan manusia yang bejad selalu menjadi masalah utama bagi alam untuk melaksanakan tugasnya ini.

Di kala manusia sudah tidak peduli lagi terhadap sahabatnya yang satu ini, di kala para pengusaha dan orang-orang kaya berusaha memperluas tanah miliknya dan membangun berbagai properti dengan membebaskan lahan hijau, di kala para orang kota semakin tidak tahu diri dengan menyumbat selokan dengan sampah dan membangun berbagai pabrik dengan limbah berbahaya, di kala hutan sudah benar-benar langka dan menipis, di kala es kutub utara sudah mencair dan tinggal beberapa kecil bongkah lagi, di kala Singapura sudah tinggal sejarah karena tenggelam, di kala Jakarta sudah tinggal sebagian karena luas pulau jawa berkurang akibat rendaman air, di kala sungai jorok kota besar seperti Jakarta dan Bandung mengotori setiap banjir yang terjadi seminggu dua kali...

Di kala anak-anak sekolah sudah tidak peduli lagi dengan lingkungannya, di kala mereka terlalu sibuk dengan urusan lain disamping merawat lingkungannya, di kala mereka sudah terlalu malas untuk mengelompokkan sampah, di kala mereka menumpuk sampah styrofoam di tempat sampah organik, di kala klub lingkungan hidup di sekolah tidak lagi berfungsi karena anggotanya mementingkan ekskul lain, seperti ekskul teater atau kegiatan lainnya, di kala sekolah sama sekali malas-malasan dalam memberikan fasilitas kepada klub ini karena dipandang tidak berharga, ada tiga orang yang masih terus berjuang untuk membela sahabat tidak terlihat mereka walaupun hidup mereka dipenuhi dengan berbagai cemoohan yang mendera tiada henti.

Yang pertamanya namanya ibu Zubaedah. Guru Biologi yang merangkap sebagai guru PLH ini adalah seorang yang menyadari betul bahwa lingkungan adalah sebuah aset penting dan berharga untuk kehidupan masa kini dan masa depan. Dia percaya dengan melakukan tindakan kecil, dapat berdampak besar jika dilakukan dengan sungguh-sungguh. Terhitung guru baru di SMA Favorit itu, Ibu Zubaedah adalah figur guru yang banyak menjadi buah bibir baik siswa dan guru karena langkah-langkahnya dalam menegakkan "Hak Asasi Alam" dipandang "berlebihan" dan "tidak berguna" serta "tidak menghasilkan apapun".
Ibu Zubaedah memiliki dua orang anak buah yang satu prinsip dengan beliau. Yang pertama adalah seorang anak kelas XI jurusan Bahasa bernama Abidah. Jurusan Bahasa di sekolah itu tidak diisi oleh banyak siswa, karena sekolah itu memiliki orientasi terhadap sains yang sangat tinggi (percaya tidak percaya, di sekolah ini, jurusan IPA berjumlah 7 kelas, IPS 2 kelas, dan Bahasa 1 kelas). Kelas XI Bahasa yang dihuni Abidah hanya dihuni oleh empat orang siswa, dua perempuan dan dua laki-laki.
Abidah adalah satu orang yang paham betul niat Ibu Zubaedah dan mendukung setiap langkahnya dalam melestarikan lingkungan. Dahulu, saat klub lingkungan berada pada masa-masa keemasannya, Abidah adalah ketua divisi pengelolaan Bank Sampah di klub tersebut. Ini terjadi saat Abidah duduk di bangku kelas X.
Satu orang lagi teman setiap Abidah dan Ibu Zubaedah adalah seorang perempuan kelas XI jurusan IPS bernama Nabha. Nabha sendiri, saat klub lingkungan ini mundur di tahun keduanya sekolah, bertekad kuat untuk ikut bersama Ibu Zubaedah dalam perjuangannya membela hak asasi lingkungan. Klub lingkungan ini didera berbagai cobaan yang datang dari dalam dan luar sekolah sehingga terjadi sebuah kemunduran yang dahsyat. Dahulu, klub ini adalah sebuah klub yang hidup, dengan berbagai program kerja yang berjalan mulus dan jumlah anggota aktif yang tidak sedikit.

Seiring berjalannya waktu, dengan digantinya sistem kurikulum nasional, saat tahun kedua Nabha dan Abidah, peminat klub ini turun drastis (kepadatan jadwal sekolah membuat banyak orang meninggalkan klub ini. Disamping itu, orang mulai cenderung mementingkan klub lain). Nabha adalah murid pindahan, dan di SMA lamanya di daerah Katapang, Nabha juga merupakan seorang aktivis lingkungan.

Ceritanya baru akan dimulai sesaat lagi...

Masa-masa pahit yang harus diterima Nabha, Abidah, Ibu Zubaedah dan semua orang di dunia itu terjadi di bulan Mei 2014. Kebakaran hutan di daerah Riau membumihanguskan seisi pulau lengkap dengan penghuninya. Asap kebakaran hutan tersebut berubah menjadi racun karena bercampur dengan polusi kendaraan bermotor, rokok, dan asap pabrik, merubahnya menjadi asap beracun dan hujan asam racun yang membunuh nyaris seisi populasi manusia di pulau Sumatera, dan membunuh semua hewan dan tumbuhan yang ada disana juga.

Pemerintah Indonesia memutuskan untuk membuat status bahaya lingkungan dan pulau-pulau yang masih bertahan hidup berjuang keras untuk melawan dampak polusi ini. Polusi asap racun yang benar-benar menyebar dengan cepat berhasil membunuh populasi di pulau Kalimantan tidak dalam waktu seminggu. Hal ini diperparah dengan berbagai pembangunan yang membabi buta di pulau Borneo itu. Mayat-mayat di sepanjang jalan Kalimantan dan Sumatera sudah seperti hal yang lumrah ditemui di tengah suasana kota mati tanpa tumbuhan dan hewan tersebut. Jika kita ingin berwisata ke Danau Toba saat itu, setidaknya bawalah tiga atau empat kotak masker dan minimal tujuh kaleng oksigen untuk perbekalan, kecuali kita ingin bunuh diri karena galau pacar kita baru saja pergi meninggalkan kita dengan dramatis di SMS.

Kabar dari pulau Sulawesi dan Maluku juga tidak kalah mengenaskan. Pemboman terumbu karang dan pembalakan liar terjadi dimana-mana. Saat asap beracun kiriman dari Sumatera dan Kalimantan tiba di kedua pulau ini, mereka tidak punya pertahanan apa-apa untuk melawannya, dan akhirnya kejadiannya sama--pulau yang semula penuh dengan orang kaya yang membabi buta membantai habis alam, berubah menjadi pulau mati yang benar-benar mati. Papua juga mengalami hal yang sama tidak lama kemudian.

Pertanyaannya adalah, bagaimana kabar Pulau Jawa dan Sunda Kelapa (Bali, NTT dan NTB)? Sekolah tempat Ibu Zubaedah mengajar dan Abidah serta Nabha bersekolah terletak di Jawa, tepatnya di kota Bandung, Jawa Barat. Kabar bahwa asap beracun itu akan menyerang Pulau Jawa sebelum Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua membuat Ibu Zubaedah bergegas mengumpulkan para anggota klub lingkungan yang tersisa--yang memang tinggal lima orang. Mereka adalah Abidah, Nabha, Bahana, Cagak dan Fahmida. Bahana adalah seorang siswa kelas XI IPA, sementara Cagak dan Fahmida adalah siswa baru kelas X yang tertarik masuk ke dalam klub lingkungan ini.

Ibu Zubaedah berusaha meyakinkan para 'pasukannya' yang tersisa (yang diberi nama 'Virus Cyling', 'Virus' karena mereka jumlahnya kecil namun diharapkan cepat menyebar, dan 'Cyling' yang merupakan akronim yang dipaksakan untuk 'Sayang Lingkungan') dan memberikan briefing kepada mereka tentang keadaan genting ini. Bahana memberikan sanggahan dengan mempersembahkan beberapa fakta sains seputar kemunculan asap tersebut, yang membuat Cagak dan Fahmida bertanya-tanya tentang kasus baru ini. Walaupun Ibu Zubaedah telah menjelaskan semuanya, Bahana tetap memberikan sanggahan dan tidak menyetujui usulan Ibu Zubaedah.

Sebenarnya, Ibu Zubaedah berusaha meyakinkan kelimanya untuk memulai kembali gerakan menanam pohon di sekolah mereka dan gerakan mengurangi sampah, serta gerakan sepeda menuju sekolah untuk mengurangi polusi. Selain itu, Ibu Zubaedah juga memberikan proposal kepada pihak sekolah untuk membuat biopori dan penanaman pohon yang dapat menghasilkan oksigen dengan banyak di usia mudanya di lingkungan sekolah. Namun, semua usaha Ibu Zubaedah, seperti biasa, selalu berakhir sia-sia dengan anggukan kepala sekolah menjawab 'Iya' tanpa tindak lanjut sama sekali, seperti biasa. Disamping itu, himbauan yang disampaikan keenam pejuang ini untuk membawa bekal dari rumah ke sekolah dan mengurangi sampah sama sekali tidak berdampak apa-apa di sekolah yang kini menjadi sekolah yang tidak peduli sama sekali.

Di mata para siswa, mereka seperti, "Untuk apa melakukan semua ini? Males banget sih, ngapain? Ga ada nilai ini buat rapot kan?" Ya, angka yang tertulis di rapot dan buku pelajaran harian serta ulangan harian adalah hal yang paling didewakan di sekolah ini.

Saat dikumpulkan kembali untuk membahas ini lebih lanjut, Bahana tidak hadir dengan alasan lebih mementingkan latihan klub drama dibandingkan dengan klub lingkungan yang pernah membesarkan namanya di kancah internasional dulu. Ya, Bahana adalah pemenang lomba pidato kelingkungan hidup dan pidatonya ini berhasil menyelamatkan beberapa negara Afrika dari kekeringan dengan mengetuk hati para pemegang saham untuk menanamkan modalnya di perusahaan penyalur air bersih dan makanan sehingga mereka selamat dari bahaya busung lapar. Semua itu hanya tinggal rekaman dalam video, dan foto bersama mereka semua seperti bertambah satu lagi coretan saat Bahana menyatakan mangkir dari klub lingkungan. Kini tinggal empat orang lagi yang ada di dalam klub itu, ditambah Ibu Zubaedah.

Ibu Zubaedah memberikan usul, dalam diskusinya bersama Nabha, Abidah, Cagak dan Fahmida, supaya kegiatan menanam ini dimulai oleh mereka berlima. Terlebih setelah mereka mengetahui bahwa sebagian daerah barat Banten sudah terbunuh mati oleh asap tersebut. Pemerintah Banten beserta penduduknya berhasil menahan asap untuk menyebar lebih lanjut, memberikan waktu kepada mereka untuk melakukan langkah-langkah terakhir. Ibu Zubaedah berhasil menemukan sebuah tanaman baru--spesies yang ditemukannya setelah mengotak-atik DNA pohon Pinus dan Kantung Semar--yang setelah diuji di Laboratorium Biologi sekolah, dapat menyerap berbagai jenis asap di usianya yang ke empat hari.

Masalahnya adalah bagaimana spesies pohon itu dapat ber-reproduksi, karena untuk membuat sebuah turunan baru dari spesies itu diperlukan proses tanam di media agar-agar dan memakan waktu satu hari satu malam untuk membuat satu spesies baru, memanfaatkan tunas batang pohon ajaib ini yang mana  dalam waktu satu hari sudah tumbuh 20 cm, berbatang kayu, berakar tunggang dan mulai berdaun. Kemampuan Banten untuk menahan penyebaran asap sebelum pergi lebih jauh ke timur tidak akan berhasil lama, hanya empat hari.

Dengan demikian, mereka hanya punya kesempatan menanam sebuah pohon di hari pertama, dua buah pohon di hari kedua dan empat buah pohon di hari ketiga. Malam hari keempat akan mereka gunakan untuk menyebarkan pohon ini di beberapa titik di sekitar sekolah, berharap penyebaran asap akan berakhir sampai di sekolah itu. Namun, Cagak tiba-tiba membentak kesal dan menyatakan betapa repotnya langkah yang harus diperbuat ini. Wajar saja, dia benar-benar tercengang saat mendapat kabar kalau keluarganya di Banten meninggal akibat asap ini. Seisi klub berusaha menenangkannya, namun Cagak tiba-tiba marah-marah, membentak seisi klub dan pergi meninggalkan mereka. Disamping orangnya yang tegas dan berwibawa, Cagak adalah orang yang pemalas dan tempramental.

Kini, hanya tinggal Ibu Zubaedah, Nabha, Abidah dan Fahmida yang masing-masing mempunyai satu buah pohon yang bisa mereka tanam di tempat yang mereka pilih.

Tiga hari telah berlalu, dan masing-masing dari mereka telah mendapatkan sebuah pohon.
Namun, rencana mereka tidak berjalan mulus di hari keempat. Banten menyatakan kemampuannya menahan asap ini untuk satu hari tambahan, memberi mereka waktu di hari keempat sebelum kematian untuk menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan. Di sisi lain, rencana mereka yang tersusun manis, berubah menjadi petaka.

Himbauan mereka kepada teman-temannya untuk membawa bekal dari rumah tidak dihiraukan sama sekali, menyebabkan volume sampah di penampungan sekolah meningkat tajam sehingga tidak terbendung lagi. Terlebih, sampah yang menumpuk tidak terkelompokkan menyebabkan racun padat, cair dan gas menyebar dan meracuni tanah, udara, benda padat dan apapun yang tersentuhnya. Ada sebuah tanaman ajaib yang ditanam oleh Fahmida di dekat kantin sekolah, yang mana kantin sekolah itu dekat dengan pembuangan sampah. Hal ini diperparah dengan kebiasaan beberapa anak kelas XI dan XII untuk merokok di ujung kantin sekolah, memperparah keadaan dan membuat racun sampah menyebar menjadi-jadi. Asap rokok dan racun sampah yang bercampur membunuh para perokok itu seketika itu juga. Jika kau ada di sana, kau dapat melihat dengan jelas wajah mereka yang penuh dengan keterkejutan--mata terbelalak, hidung berbusa, mulut menganga terbuka berasap, atau badan yang mengeluarkan sejenis cairan aneh. Fahmida melihat ini semua, dan dengan tidak sengaja menghirup racun itu, membunuhnya seketika itu juga.

Kata-kata terakhirnya yang dapat ia sampaikan kepada Ibu Zubaedah, Abidah dan Nabha yang berusaha menyelamatkannya sebelum mati adalah, "Tolong sampaikan ke guru fisikaku aku sudah mengerjakan tugas mandiri darinya."

Kabarnya, mayat Cagak ditemukan juga bersama dengan mayat para perokok itu.

Hari itu juga, kejadian belum berakhir. Pembangunan villa yang membabi buta, membabat pohon-pohon di sekitar sekolah, tiba-tiba dilanjutkan. Ibu Zubaedah sebelumnya melayangkan gugatan kepada pengadilan atas pembangunan yang dilaksanakan orang kaya raya serakah ini. Memang gugatannya diterima dan pembangunannya dihentikan, namun secara tiba-tiba, sebulan setelah gugatan itu dibatalkan--tepatnya hari itu--tiba-tiba pengadilan mengabulkan PK yang diajukan si pembangun, dan Ibu Zubaedah tidak berdaya melihat tanaman yang ditanamnya di dekat villa itu ikut hancur bersama dengan pembangunan villa tersebut. Parahnya, pembangun villa tersebut adalah orang tua salah satu siswa di sekolah itu. Mengetahui ini, Ibu Zubaedah bukan main sakit hatinya.

Sekelompok siswa kelas XI menginjak tanaman yang ditanam oleh Nabha di taman sekolah. Tanpa rasa bersalah, para perempuan gaul ini mengatakan bahwa mereka melakukan ini karena mereka pikir menanam hal seperti ini bukanlah hal yang penting. Mereka masih bisa menanam tanaman lain untuk menggantikannya--dimana mereka tidak akan pernah melakukannya sama sekali--dan menganggap keajaiban tanaman temuan Ibu Zubaedah ini bukan apa-apa.

Tinggal tersisa satu tanaman lagi. Tanaman yang ditanam oleh Abidah di depan salah satu kelas.

Sayangnya penghuni kelas itu adalah penghuni kelas yang benar-benar kurang ajar. Ketidakpedulian mereka terhadap hal-hal berbau selain nilai sekolah membutakan mereka. Di pot tanaman yang ditanam oleh Abidah, mereka menuangkan air panas bekas Mie yang dimakan dari wadah dari Styrofoam. Selain itu, bekas minuman seperti jus dan minuman teh sintetik serta minuman kemasan botol juga mereka tuangkan--bahkan bekas bubur. Mereka menyatakan bahwa tindakan mereka tidak mempengaruhi nilai sekolah mereka, lantas mereka tidak perlu khawatir kalaupun tanaman itu mati. Sayangnya, itu adalah tanaman terakhir yang mengandung harapan atas umat manusia di tempat itu, saat itu.



Hari esoknya, anda dapat menemukan mayat Ibu Zubaedah yang sedang memeluk Abidah dan Nabha di depan ruang klub lingkungan, mati tertutup bekas asap tebal beracun yang melepuhkan kulitnya dan merusak kain-kain pakaian, serta bangunan sekolah yang sudah tidak karuan bentuknya akibat pengeroposan hujan asam dan mayat-mayat siswa yang panik bertebaran di mana-mana.

Bahana, yang ternyata masih hidup, berdiri di depan mayat guru dan kedua siswanya ini, berlutut sedih. Ia telah menghirup asap itu, dan dia tahu umurnya tidak akan lama lagi. Sambil menitikkan beberapa tetes air mata yang tidak ada hentinya, dia mendekati ketiganya dan ikut memeluknya. Sebelum matanya tertutup, ia sempat mengatakan sesuatu dari mulutnya.

"Jikalau aku tidak ceroboh dan ikut berjuang bersama kalian, kematianku ini setidaknya akan lebih berarti. Aku menyesal."

Ingatlah, Bahana, penyesalan itu selalu muncul di akhir. Jika saja hal ini terjadi di lingkungan kita saat ini, apa yang akan kita lakukan?
Hi again! This time, I'm writing in my native language, Bahasa Indonesia. If people find this interesting I'll translate this one to English. Yeah, maybe a later time. Actually I made this as the art-trades for Mrs. Elis Djubaedah (my Biology-Environment Class Teacher) and :iconchibakazunari: :)

Enjoy~
I'm still not in a good mood at this moment. Yeah, the useless me, the poor me, the everything-bad-is-in me.
Add a Comment:
 
:iconchibakazunari:
ChibaKazunari Featured By Owner Apr 26, 2014
Sankyuuu !!!!
Reply
:iconoichidan:
oichidan Featured By Owner Apr 27, 2014  Student Writer
Dou...itashimashitenda
Jangan kapok mi
Reply
:iconthestoryhunter:
TheStoryHunter Featured By Owner Apr 26, 2014  Student General Artist
I'm... amazed.

Aku nulisnya pake bahasa Inggris aja ya, soalnya ngomongin yang beginian lebih enak pake bahasa Inggris... You know, sadly, poetic language in our society has been seen as something... "alay", that they never uses it in daily life anymore. It is sad, that even me don't have enough courage to stand against it.

But, enough of pity-ourself, I'll give a little glory for this fic. I like that you always have some... wild imagination of the world, to imagine an alternative world. Mainly because I can really come up with such thing myself. And then, you seem to have a lot of idea to gives turn of events for your characters. And... Your tragic and sarcastic style. Those are the points I'll give to you, but I'm sure there's still pretty much than I've stated. Perhaps anybody else could point it out? If you translate it and tell SincaraDain, I'm sure he'll tell you more.

Hm... now I wonder why I'm being so big-mouth like this...
Here's the hug~ Frozen - HUG! 
Reply
:iconoichidan:
oichidan Featured By Owner Apr 27, 2014  Student Writer
I don't know why, but when I was writing this, I was in a bad mood so poetic ***** flew all over my mind and poisoned the unseen thing completely.

Yeah, I've been thinking about translating, but really, not really in a good mood to activate dictionary mode...just skip that.

:hug: <- <-
Reply
:iconthestoryhunter:
TheStoryHunter Featured By Owner Apr 27, 2014  Student General Artist
Awright.
Reply
Add a Comment: